Klenteng Cu An Kiong terletak di Jalan Dasun No.19, Pereng, Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Tidak ada yang mengatahui secara pasti kapan Klenteng ini dibangun, oleh siapa dan tahun berapa. Namun menurut pernyataan Pak Gandor juru kunci klenteng Cu An Kiong yang lama, berdasarkan hasil temuan orang Tionghoa Lasem yang berkunjung ke salah satu museum yang ada di kota Laiden, Belanda, pernah melihat sebuah peta tentang Lasem. Dalam peta yang dibuat pada tahun 1411 tersebut terdapat nama Klenteng Cu An Kiong.

Klenteng ini dibangun untuk memuja Dewi Laut (天上聖母 Tiānshàng shèngmǔ) atau lebih dikenal Dewi Mazu (妈祖Māzǔ) atau dalam bahasa Hokkien adalah Mak Co berarti Dewi Samudra. Terdapat beberapa prasasti batu yang berada di klenteng ini. Prasasti batu tertua di Klenteng Cu An Kiong dibuat oleh seorang kapten bernama Lin Chan Ling (林长龄) pada tahun 1838 yang berisi tentang perbaikan Klenteng Cu An Kiong beserta 105 nama donatur yang menyumbang untuk perbaikan klenteng. Salah satu donatur yang tertulis pada prasasti batu tersebut adalah Letnan Liem Tjai Sung yang saat itu menjabat sebagai Letnan di Rembang periode 1837-1846.

Klenteng Cu An Kiong memiliki halaman yang sangat luas, di sebelah kanan dari pintu masuk halaman Klenteng Cu An Kiong terdapat Monumen Perjuangan Laskar Tionghoa dan Jawa melawan VOC 1740-1743. Tujuannya untuk mengenang jasa para pahlawan dari Lasem yaitu, Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat, dan Raden Panji Margono. Saat memasuki komplek klenteng Cu An Kiong terdapat gerbang, gapura, dua tungku pembakaran uang kertas di samping kiri, kanan dan sepasang patung singa. Gapura klenteng Cu An Kiong yang di atasnya ada dua patung Qilin yang saling berhadapan memperebutkan mutiara surgawi. 

Klenteng Cu An Kiong dalam denahnya membagi ruang untuk 12 fungsi antara lain; halaman, teras depan klenteng, ruang depan, ruang terbuka, ruang utama untuk menempatkan meja persembahan para dewa-dewi, ruang untuk tempat altar kecil, ruang jaga dan kantor, ruang tempat tinggal untuk penjaga, aula untuk menerima tamu dalam jumlah yang cukup banyak, gudang, dapur, kamar mandi dan toilet.

Klenteng Cu An Kiong mempunyai sebuah ruang terbuka yang berada tepat di tengah bangunan utama klenteng yang berfungsi sebagai penerangan alami saat siang hari. Bangunan klenteng Cu An Kiong didominasi oleh konstruksi kayu, hanya tembok yang terbuat dari batu bata dan lantai yang memakai tegel. Sisanya adalah bangunan berbahan kayu. 

 Klenteng Cu An Kiong adalah klenteng yang paling banyak menggunakan ornamen pada kuda-kuda atapnya. Ornamen yang digunakan adalah burung Phoenix (burung Hong), Qilin, Naga (Liong), bunga lotus yang memiliki arti keberuntungan, bunga teratai yang memiliki arti kebahagiaan dan lainnya. Dekorasi ini menunjukkan gaya detail arsitektur Tionghoa di abad ke-18. Meski Klenteng Cu An Kiong sudah mengalami perbaikkan di tahun 1838 seperti yang sudah tertulis pada prasasti batu pertama di sana, namun tidak mengurangi nilai sejarahnya. 

Selain ornamen yang ada pada kuda-kuda atap dan penyangga atapnya, Klenteng Cu An Kiong juga menggunakan ornamen ukiran pada pintu, pilar dan partisi ruangan yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Gambar ukiran yang digunakan adalah gajah, harimau, Qilin, burung Hong, bunga teratai dan tumbuhan laut. 

Simbol gajah dalam mitologi di Tiongkok diartikan sebagai hewan dengan moral yang sangat tinggi dan melambangkan kekuatan dan kecerdasan. Selain simbol Gajah, juga ditemui ukiran lain seperti Qilin yang berarti kemakmuran, burung Phoenix atau Hong yang berarti keabadian, harimau yang berarti keberanian, naga atau liong yang berarti kebaikan dan kemakmuran. Selain simbol ukiran binatang, penulis juga menemui ukiran pot berisi bunga teratai yang berarti lambang kebahagian.  

Dekorasi ornamen pada Klenteng Cu An Kiong sebagai klenteng yang pertama kali dibangun di Lasem. Ukiran itu sangat rumit karena pahatannya  dan tidak semua orang di masa kini dapat memahami artinya lagi, tidak seperti dua klenteng yang lainnya yang tidak terlalu banyak ditemui ukiran yang rumit seperti itu. Ini bisa berarti bahwa, di zaman dahulu kemiripan klenteng di Tiongkok merupakan hal yang penting untuk membangun klenteng masyarakat Tiongkok yang bermigrasi ke Lasem pada saat itu.

Selain ornamen, terdapat mural yang dilukis pada dinding Cu An Kiong. Mural monokrom itu berasal dari 100 panel ‘komik’ Fengshen Yan Yi (封神演义Fēngshén Yǎnyì ), yang dikenal juga dengan nama Feng Shenbang (封神榜Fēngshénbǎng ) atau kisah mitologi Dewa-dewa Taois karya Xu Zhonglin (许仲琳Xǔzhònglín ) yang ditulis pada masa pemerintahan Dinasti Ming (1368-1644) dan terbit pada 1550.

Pada Klenteng Cu An Kiong terdapat dua macam tiang yakni kolom dan pilar. Kolom-kolom digunakan untuk menyangga kanopi. Kolom-kolom penyangga tersebut berdiri di atas batu yang berbentuk mangkuk terbalik. Di puncak kolom, sehubungan dengan struktur atap kayu, ada mangkuk yang lebih kecil berwarna perak. Kolom yang terletak di depan altar dilukis dengan sepasang naga berwarna biru, mirip dengan lukisan yang ada pada kuda-kuda atap. Pilar-pilar berwarna merah dengan garis kuning pada tepinya. Pada pilar-pilar ini terdapat papan hitam berhuruf Tionghoa digantung, huruf tersebut bewarna keemasan.

Penyangga atap Klenteng Cu An Kiong menggunakan sistem braket balok penyangga dari kayu yang merupakan salah satu ciri khas dari bangunan arsitektur tradisional di Tiongkok. Balok penyangga dari kayu merupakan struktur rangka kayu  yang berfungsi sebagai penyangga atap terdiri atas kolom dan balok dan menggunakan teknik kuncian dalam menggabungkannya. Yang dimaksud teknik kuncian disini adalah merekatkan antara kolom dan balok tanpa menggunakan paku. Teknik ini termasuk dalam buku asrsitektur pertama di Tiongkok, Ying Tsao Fa Shih. 

 

Ditulis Oleh : El Laily