Jakarta, 23 Agustus 2020 – Kain Nusantara khususnya Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknikteknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009. Bicara mengenai batik, Institut Pluralisme Indonesia (IPI) berupaya melaksanakan berbagai kegiatan penelitian, pendampingan  dan edukasi terhadap masyarakat guna mendorong pelestarian batik nusantara. Kegiatan ini merupakan bagian dari program jangka panjang IPI dalam membantu proses pelestarian batik.

Sehubungan dengan meningkatkan kepedulian, pengetahuan, dan daya-tarik desain batik dalam wacana khalayak khususnya generasi muda di masa “New Normal” ini, IPI berinisiatif menyelenggarakan webinar dengan Batik 101: Kain Nusantara dan Anak Muda di Era Digital. Webinar yang secara khusus menyoroti pelestarian batik sebagai kain nusantara, juga mensosialisasikan pentingnya melestarikan kain nusantara lainnya melalui kisah dibalik pembuatan kain-kain nusantara tersebut.

 

Hadir dalam webinar yang diselenggarakan di Jakarta, Minggu, 23 Agustus 2020 antara lain Fashion Guru dan Designer, Musa Widyatmodjo, Founder dan CEO Copa de Flores, Maria G. Isabella dan Direktur IPI, William Kwan. Sebagai moderator webinar adalah Founder Putu Indonesia, Alliya Bianca.

 

IPI melalui program Samadaya berupaya melaksanakan berbagai kegiatan penelitian, pendampingan  dan edukasi terhadap masyarakat guna mendorong pelestarian batik nusantara, demikian pernyataan Direktur IPI, William Kwan saat pembukaan webinar.

 

Fashion Guru dan Designer, Musa Widyatmodjo mengatakan, melestarikan batik Indonesia merupakan kewajiban sebagai warga negara Indonesia. Karena merupakan bagian dari budaya Indonesia. Salah satu cara melestarikan batik Indonesia adalah mengolah desain batik menjadi kekinian. Karena kelemahan industri batik Indonesia adalah hanya ada pengrajin dan pedagang batik, bukan seniman batik.Untuk itu dibutuhkan kreativitas menciptakan motif-motif batik yang baru.

 

Menurut Founder dan CEO Copa de Flores, Maria G. Isabella, untuk melestarikan kain nusantara, orang harus memahami cerita dibalik pembuatan kain tersebut. Karena cerita dibalik kain merupakan curahan hati pembuatnya. Sehingga kain nusantara bisa melekat di hati. Apalagi material kain terkait kehidupan manusia.

 

Bicara mengenai kain nusantara tak lepas dari keberagaman. Karena unsur-unsur yang ada pada kain nusantara terdapat pengaruh budaya lain misalnya budaya Cina, Arab ataupun Eropa. Pengaruh budaya lain menyebabkan asimilasi budaya di Indonesia yang merupakan keberagaman.

 

——000—-